Jumat, 04 Februari 2011
Tenis meja alias ping pong
A. Pengertian Tenis Meja
Hampir setiap orang pernah bermain tenis meja sesekali dalam hidupnya telah dicobanya bermain pingpong, entah untuk mengisi waktu dikala senggang, entah sebagai pelampiasan rasa ingin tahu saja. Tujuannya hanyalah satu dua game, mencoba set tenis meja yang baru diterimanya sebagai hadiah ulang tahun atau hari natal. Dipasangnya pun di atas meja makan ! Ada juga yang mengikuti pertandingan pingpong secara lebih mendalam.
Tenis meja adalah suatu cabang olahraga yang tidak mengenal batas umur, anak –anak maupun orang dewasa dapat bermain bersama. Dapat dianggap sebagai acara rekreasi, dapat juga dianggap sebagai olahraga atletik yang harus ditanggulangi dengan bersungguh-sungguh. Tetapi kalau kita ingin menguasai pingpong sebagai olahraga, maka mau tak mau kita harus mempelajari dan memahami berbagai stroke (pukulan) yang ada, kita harus menguasai juga berbagai style permainan yang utama, tak mungkin bermain pingpong dengan baik tanpa mengetahui dasar-dasar ini.
Tenis meja merupakan salah satu abang olahraga yang banyak penggemarnya, tidak terbatas pada tingkat usia remaja saja, tapi juga anak-anak dan orang tua, pria dan wanita cukup besar peminatnya, hal ini disebabkan karena olahraga yang satu ini tidak terlalu rumit untuk diteliti.
B. Sejarah Tentang Tenis Meja
Pada mulanya tenis meja dianggap sebagai permainan yang lucu dan kurang menarik, karena mulanya seorang gadis dan seorang pemuda memukul bola plastic kecil melintas di atas net ( yang selanjutnya disebut pingpong). Pada perkembangan selanjutnya dari hasil latihan sampai terampil dalam bermain bola pingpong itu dapatlah ditentukan bahwa tubuh merupakan subjek yang harus melewati latihan khusus dan intensif, serta harus mampu memukul bola lebih dari 100 mph dan harus dapat menguasai bola itu sendiri.
Pada saat tenis meja merupakan ukuran olahraga prestasi internasional, selebih bertahun selama 30 tahun menjadi ukuran prestasi nasional. Pertandingan tenis meja diselenggarakan di London tahun 1926, yang semata-mata merupakan kompetisi antara 7 negara dan selanjutnya diikuti oleh 34 negara. Tahun 1930 Inggris mampu mendapat unggulan, yakni Fred Derry yang memenangkan kejuaran tunggal Wimbolden pada tahun 1928 – 1929. Sukses yang diperoleh Eropa Timur, membuat nama Viktor Barna dari Richard Bergmann menjadi tokoh legendaris. Barna sendiri menjadi raja tenis meja selama 16 tahun dalam nomor tunggal dan ganda. Setelah Perang Dunia II, tenis meja mengundang simpati dan mempesonakan setengah dari benua Eropa. Hungaria dan Cekoslawakia menghasilkan pemain–pemain kaliber dunia serta memperkenalkan teknik permainan yang maju dan lebih maju.
C. Perlengkapan Tenis Meja
1. Bet atau Raket
Bet merupakan alat utama untuk memukul bola pada tenis meja. Pada mulanya dipakai busa atau spon, kemudian mengalami perubahan pada masa 30 tahun terakhir. Alat pemukul bola pada tenis meja ( bet atau raket) semakin disederhanakan. Bet – bet terbuat dari bahan – bahan lunak dengan postur bundar, dan terbuat dari karet. Dengan adanya karet sintetis tersebut didapatkan bet seperti yang dipakai Barna, Bergmann dan Leach. Bet yang dilapisi karet tidak saja memberi kecepatan penuh, tetapi juga memberi kesempatan kepada para pemain mengembangkan gaya permainannya yang akurat, penuh kehalusan dan teknik yang meliputi segalanya. Bola akan berputar-putar membingungkan pandangan pada keepatan prima. Pukulan semacam itu, harus sudah menyatu dalam perlengkapan tenis bagi pemain kaliber dunia.
2. Bola
Secara tradisional bola –bola dibuat dari bahan celluloid dan pada perkembangan selanjutnya bola disempurnakan menjadi superbal yang terbuat dari serpihan plastik. Namun demikian terdapat kesulitan pada daya pantul yang tidak dapat diandalkan. Dengan bola –bola yang dihasilkan secara tradisional, tidak lagi merupakan personal bagaimana gigihnya menjatuhkan lawan, tetapi bagaimana cara dan menghindari agar supaya tidak mengikuti irama permainan lawan, sedangkan dengan menggunakan superbal, sesuai 3 -4 kali permainan bola akan tetap licin dan sukar mengendalikannya. Hampir semua pemain tenis meja dunia menola bola jenis ini karena tidak dapat memberikan kesempatan baik pada set-set yang tidak diduga.
3. Pakaian
Pilihlah kaos yang sesuai dengan postur tubuh anda, sehingga memberi kenyamanan. Jangan memilih kaos yang menyebabkan suasana panas dan dingin, pakailah kaos yang benar-benar sesuai dan memberi kenyamanan bagi tubuh. Sebelum mulai pertandingan suatu turnamen, pemanasan tubuh adalah penting, beberapa tempat permainan di dunia internasional, kadang –kadang terlalu dingin. Untuk itu dibutuhkan kaos rangkap dan atau tiga untuk menghindarkan dari kejang-kejang atau kedinginan.
4. Meja Tenis
Meja yang baik adalah meja yang mempunyai ukuran sebagai berikut ;
Panjang : 2,74 meter
Lebar : 1,52 meter
Panjang net : 1,83 meter
Tinggi : 76 cm
Warna meja yang ideal adalah hijau dengan garis-garis batas berwarna putih dan lebar 2 cm.
5. Net
Net ini berfungsi sebagai pembagi mesin menjadi dua bagian yang sama luasnya. Di kiri kanan meja dipasang dua tiang penyangga ukuran 15 sampai 25 cm, tingginya dan berjarak 15 sampai 25 dari garis pinggir. Tiang penyangga ini berguna untuk mengikatkan tali penopang net tersebut.
Tinggi net berkisar antara 15 sampai 25 cm di atas permukiman meja, sedangkan bagian bawahnya harus dipasang sedekat mungkin dengan permulaan meja tersebut.
D. Peraturan Peralatan Tenis Meja
1. Meja
a. Permukaan atas meja yang secara umum diistilahkan sebagai ” Playing surface” harus berbentuk segi empat dengan ukuran panjang 2,74 meter dan lebar 15,25 meter. Permukaan ini harus terletak horisontal pada ketinggian 760 mm di atas lantai.
b. Permukaan atas meja dapat terbuat dari material apapun juga, asalkan kemungkinan pantulan bola setinggi 220 sampai 250 mm dengan menggunakan bola standar (sebaiknya yang jenis medium) dan dijatuhkan dari ketinggian 305 mm dari atas permukaan meja.
c. Permukaan meja ini harus berwarna gelap, kalau mungkin hijau tua. Permukaan meja ini tidak boleh berkilat dan dibatasi dengan garis putih sebesar 20 mm di semua sisinya.
1) Garis putih yang membatasi lebar permukaan meja sepanjang 1,525 meter akan diberi nama ” batas akhir” (endlines)
2) Garis putih yang membatasi panjang permukaan meja sepanjang 2,74 meter akan diberi nama ” batas sisi” ( side lines)
d. Bagi permainan ganda, permukaan meja ini akan dibagi menjadi dua bagian dengan garis putih selebar 3 mm. Garis tengah ini pararel dengan batas sisi dan akan diberi nama ” batas tengah” ( centre line). Batas tengah yang sudah digambarkan secara permanen ini tak perlu dihapus apabila meja hendak dipakai untuk permainan tunggal.
2. Net
a. Permukaan meja akan dibagi menjadi dua sisi dengan ukuran yang sama dengan perantaraan sebuah ” jaring” (net) yang pararel dengan batas akhir meja tersebut.
b. Net ini akan ditegangkan oleh tali yang diikat pada kedua belah sisi pada sebuah tiang penyangga setinggi 152,5 mm, sedangkan batas sisi dari kedua tiang penyangga harus berjarak 152,5 mm dari batas sisi permukaan meja.
c. Panjang net itu, beserta perpanjangnya di sisi kanan dan kiri harus berukuran : panjang 1.83 m sedangkan seluruh panjang tersebut, terhitung dari ujung atas net, harus berjarak 152,2 mm di atas permukaan meja.
3. Bola
a. Bola harus berbentuk bulat, dengan diameter minimum 37,2 mm dan maksimum 28.2 mm.
b. Berat bola minimum harus 240 gram dan maksimum 2.54 gram.
c. Bola ini harus terbuat dari selulosa atau plastik lainnya yang sejenis dan harus berwarna putih atau king tanpa ada efek berkilat ( harus suram).
4. Bet atau raket
• Ukuran raket bebas, demikian juga bentuk dan beratnya.
• "Blade” ( bagian raket yang bundar, dengan maka kita memukul bola) harus terbuat dari kayu seluruhnya, rata tebalnya , datar dan kaku.
• Bagian permukaan dari setiap sisi black tersebut, dipakai ataupun tidak dipakai untuk memukul bola, harus berwarna gelap suram setiap pinggiran atas hiasan dipinggir blade tidak berwarna putih atau berrefleksi.
E. Peraturan Tenis Meja
1. Pada saat serve, bola harus dilepas. Apabila bola terkena net dan bola masuk ke daerah lawan, maka harus di ulang sampai 3 (tiga) kali dan apabila masih terkena net juga maka point untuk lawan. Sedangkan apabila bola menyentuh net dan masuk ke daerah kita, maka point untuk lawan.
2. Pada saat mau serve dan bola lepas dari tangan dan belum/tidak sempat dipukul, maka serven boleh diulang selama bola tidak menyentuh meja pertandingan. Kalau bola menyentuh meja pertandingan, maka point untuk lawan.
3. Pada saat pertandingan, pergantian serve (pindah bola) dilakukan setelah 2 (dua) point.
4. Pertandingan dilakukan sebanyak 3 (lima) game dan apabila menang dalam 2 game maka dinyatakan sebagai pemenang. Dalam setiap game-nya perolehan point sebanyak 21 point/angka.
5. Selama pertandingan apabila tangan atau anggota tubuh lainnya menyentuh meja pertandingan, pertandingan tetap dilanjutkan. Dan apabila bola menyentuh tangan (tidak disengaja) dan bola jatuh ke meja lawan, maka pertandingan tetap dilanjutkan.
6. Apabila bet menyentuh meja atau bet menyentuh badan, pertandingan tetap dilanjutkan.
7. Untuk menentukan siapa yang berhak melakukan serve lebih dulu pada setiap pertandingan, dilakukan dengan menebak keberadaan bola dibawa meja yang disembunyikan oleh wasit. Sedangkan untuk game ke-2 dan selanjutnya, yang berhak melakukan serve lebih dulu adalah orang yang menerima bola (bukan yang serve) pada akhir game sebelumnya.dari berbagiai sumber
Kisah Bocah Amerika Menemukan Islam dalam Buku''Muhammad Alexander Pertz''
ALEXANDER PERTZ dilahirkan dari kedua orang tua Kristen pada tahun 1990. Sejak awal ibunya telah memutuskan untuk membiarkannya memilih agamanya jauh dari pengaruh keluarga atau masyarakat. Begitu dia bisa membaca dan menulis, maka ibunya menghadirkan untuknya buku-buku agama dari seluruh agama, baik agama langit atau agama bumi. Setelah membaca buku-buku secara mendalam, Alexander memutuskan untuk menjadi seorang muslim. Padahal ia tak pernah bertemu muslim seorangpun.
Dia sangat cinta dengan agama ini sampai pada tingkatan dia mempelajari sholat, dan mengerti banyak hukum-hukum syar’i, membaca sejarah Islam, mempelajari banyak kalimat bahasa Arab, menghafal sebagian surat, dan belajar azan.
Semua itu tanpa bertemu dengan seorang muslim pun. Berdasarkan bacaan-bacaan tersebut dia memutuskan untuk mengganti namanya menjadi Muhammad Abdullah, dengan tujuan agar mendapatkan keberkahan Rasulullah SAW yang dia cintai sejak masih kecil.
Salah seorang wartawan muslim menemuinya dan bertanya pada bocah tersebut. Namun, sebelum wartawan tersebut bertanya kepadanya, bocah tersebut balik bertanya kepada wartawan itu, ”Apakah engkau seorang yang hafal Al Quran?”
Wartawan itu berkata: ”Tidak.” Namun sang wartawan dapat merasakan kekecewaan anak itu atas jawabannya.
....Setelah membaca buku-buku secara mendalam, Alexander memutuskan untuk menjadi seorang muslim. Padahal ia tak pernah bertemu muslim seorangpun....
Bocah itu kembali berkata, ”Akan tetapi engkau adalah seorang muslim, dan mengerti bahasa Arab, bukankah demikian?” dia menghujani wartawan itu dengan banyak pertanyaan. ”Apakah engkau telah menunaikan ibadah haji? Apakah engkau telah menunaikan ’umrah? Bagaimana engkau bisa mendapatkan pakaian ihram? Apakah pakaian ihram tersebut mahal? Apakah mungkin aku membelinya di sini, ataukah mereka hanya menjualnya di Arab Saudi saja? Kesulitan apa sajakah yang engkau alami, dengan keberadaanmu sebagai seorang muslim di komunitas yang bukan Islami?”
Setelah wartawan itu menjawab sebisanya, anak itu kembali berbicara dan menceritakan tentang beberapa hal berkenaan dengan kawan-kawannya, atau gurunya, sesuatu yang berkenaan dengan makan atau minumnya, peci putih yang dikenakannya, ghutrah (serban) yang dia lingkarkan di kepalanya dengan model Yaman, atau berdirinya di kebun umum untuk mengumandangkan azan sebelum dia shalat. Kemudian ia berkata dengan penuh penyesalan, ”Terkadang aku kehilangan sebagian shalat karena ketidaktahuanku tentang waktu-waktu shalat.”
Kemudian wartawan itu bertanya pada sang bocah, ”Apa yang membuatmu tertarik pada Islam? Mengapa engkau memilih Islam, tidak yang lain saja?” dia diam sesaat kemudian menjawab.
Bocah itu diam sesaat, kemudian menjawab, ”Aku tidak tahu, segala yang aku ketahui adalah dari yang aku baca tentang Islam, dan setiap kali aku menambah bacaanku, maka semakin banyak kecintaanku pada Islam.”
....Segala yang aku ketahui adalah dari yang aku baca tentang Islam, dan setiap kali aku menambah bacaanku, maka semakin banyak kecintaanku pada Islam....
Wartawan bertanya kembali, ”Apakah engkau telah puasa Ramadhan?”
Muhammad tersenyum sambil menjawab, ”Ya, aku telah puasa Ramadhan yang lalu secara sempurna. Alhamdulillah, dan itu adalah pertama kalinya aku berpuasa di dalamnya. Dulunya sulit, terlebih pada hari-hari pertama”. Kemudian dia meneruskan : ”Ayahku telah menakutiku bahwa aku tidak akan mampu berpuasa, akan tetapi aku berpuasa dan tidak mempercayai hal tersebut”.
”Apa cita-citamu?” tanya wartawan
Dengan cepat Muhammad menjawab, ”Aku memiliki banyak cita-cita. Aku ingin haji ke Makkah dan mencium Hajar Aswad”.
”Sungguh aku perhatikan bahwa keinginanmu untuk menunaikan ibadah haji adalah sangat besar. Adakah penyebab hal tersebut?” tanya wartawan lagi.
Ibu Muhammad untuk pertama kalinya ikut angkat bicara, dia berkata: ”Sesungguhnya gambar Ka’bah telah memenuhi kamarnya, sebagian manusia menyangka bahwa apa yang dia lewati pada saat sekarang hanyalah semacam khayalan, semacam angan yang akan berhenti pada suatu hari. Akan tetapi mereka tidak mengetahui bahwa dia tidak hanya sekedar serius, melainkan mengimaninya dengan sangat dalam sampai pada tingkatan yang tidak bisa dirasakan oleh orang lain”.
Tampaklah senyuman di wajah Muhammad ’Abdullah, dia melihat ibunya membelanya. Kemudian dia memberikan keterangan kepada ibunya tentang thawaf di sekitar Ka’bah, dan bagaimanakah haji sebagai sebuah lambang persamaan antar sesama manusia sebagaimana Tuhan telah menciptakan mereka tanpa memandang perbedaan warna kulit, bangsa, kaya, atau miskin.
Kemudian Muhammad meneruskan, ”Aku sudah menabung dengan mengumpulkan sisa dari uang sakuku agar aku bisa pergi ke Makkah Al-Mukarramah. Aku mendengar bahwa perjalanan ke sana membutuhkan biaya 4 ribu dollar, dan sekarang aku mempunyai 300 dollar.”
....Aku sudah menabungkan sisa dari uang sakuku agar aku bisa pergi ke Makkah Al-Mukarramah. Perjalanan ke sana membutuhkan biaya 4 ribu dollar, dan sekarang aku mempunyai 300 dollar....
Ibunya menimpalinya seraya berkata untuk berusaha menghilangkan kesan keteledorannya, ”Aku sama sekali tidak keberatan dan menghalanginya pergi ke Makkah, akan tetapi kami tidak memiliki cukup uang untuk mengirimnya dalam waktu dekat ini.”
”Apakah cita-citamu yang lain?” tanya wartawan kepada sang bocah.
“Aku bercita-cita agar Palestina kembali ke tangan kaum muslimin. Ini adalah bumi mereka yang dicuri oleh orang-orang Israel (Yahudi) dari mereka,” jawab Muhammad.
Ibunya melihat kepadanya dengan penuh keheranan. Maka dia pun memberikan isyarat bahwa sebelumnya telah terjadi perdebatan antara dia dengan ibunya sekitar tema ini.
Muhammad berkata, ”Ibu, engkau belum membaca sejarah, bacalah sejarah, sungguh benar-benar telah terjadi perampasan terhadap Palestina.”
....Cita-citaku adalah aku ingin belajar bahasa Arab, menghafal Al-Quran, dan belajar di negeri Islam....
”Apakah engkau mempunyai cita-cita lain?” tanya wartawan lagi.
Muhammad menjawab, “Cita-citaku adalah aku ingin belajar bahasa Arab, dan menghafal Al-Quran.”
“Apakah engkau berkeinginan belajar di negeri Islam?” tanya wartawan
“Tentu!” tukasnya.
”Apakah engkau memiliki kesulitan dalam hal makanan? Bagaimana engkau menghindari daging babi?”
Muhammad menjawab, ”Babi adalah hewan yang sangat kotor dan menjijikkan. Aku sangat heran, bagaimanakah mereka memakan dagingnya. Keluargaku mengetahui bahwa aku tidak memakan daging babi, oleh karena itu mereka tidak menghidangkannya untukku. Dan jika kami pergi ke restoran, maka aku bilang kepada mereka bahwa aku tidak memakan daging babi.”
”Apakah engkau shalat di sekolah?”
”Ya, aku telah membuat sebuah tempat rahasia di perpustakaan. Aku shalat di sana setiap hari,” jawab Muhammad.
Kemudian datanglah waktu shalat maghrib di tengah wawancara. Bocah itu langsung berkata kepada wartawan, “Apakah engkau mengizinkanku untuk mengumandangkan azan?”
Kemudian dia berdiri dan mengumandangkan azan. Dan tanpa terasa, air mata mengalir di kedua mata sang wartawan ketika melihat dan mendengarkan bocah itu menyuarakan azan. Subhanallah!! Sumber [riafariana/voa-islam.com]
Bocah itu kembali berkata, ”Akan tetapi engkau adalah seorang muslim, dan mengerti bahasa Arab, bukankah demikian?” dia menghujani wartawan itu dengan banyak pertanyaan. ”Apakah engkau telah menunaikan ibadah haji? Apakah engkau telah menunaikan ’umrah? Bagaimana engkau bisa mendapatkan pakaian ihram? Apakah pakaian ihram tersebut mahal? Apakah mungkin aku membelinya di sini, ataukah mereka hanya menjualnya di Arab Saudi saja? Kesulitan apa sajakah yang engkau alami, dengan keberadaanmu sebagai seorang muslim di komunitas yang bukan Islami?”
Setelah wartawan itu menjawab sebisanya, anak itu kembali berbicara dan menceritakan tentang beberapa hal berkenaan dengan kawan-kawannya, atau gurunya, sesuatu yang berkenaan dengan makan atau minumnya, peci putih yang dikenakannya, ghutrah (serban) yang dia lingkarkan di kepalanya dengan model Yaman, atau berdirinya di kebun umum untuk mengumandangkan azan sebelum dia shalat. Kemudian ia berkata dengan penuh penyesalan, ”Terkadang aku kehilangan sebagian shalat karena ketidaktahuanku tentang waktu-waktu shalat.”
Kemudian wartawan itu bertanya pada sang bocah, ”Apa yang membuatmu tertarik pada Islam? Mengapa engkau memilih Islam, tidak yang lain saja?” dia diam sesaat kemudian menjawab.
Bocah itu diam sesaat, kemudian menjawab, ”Aku tidak tahu, segala yang aku ketahui adalah dari yang aku baca tentang Islam, dan setiap kali aku menambah bacaanku, maka semakin banyak kecintaanku pada Islam.”
....Segala yang aku ketahui adalah dari yang aku baca tentang Islam, dan setiap kali aku menambah bacaanku, maka semakin banyak kecintaanku pada Islam....
Wartawan bertanya kembali, ”Apakah engkau telah puasa Ramadhan?”
Muhammad tersenyum sambil menjawab, ”Ya, aku telah puasa Ramadhan yang lalu secara sempurna. Alhamdulillah, dan itu adalah pertama kalinya aku berpuasa di dalamnya. Dulunya sulit, terlebih pada hari-hari pertama”. Kemudian dia meneruskan : ”Ayahku telah menakutiku bahwa aku tidak akan mampu berpuasa, akan tetapi aku berpuasa dan tidak mempercayai hal tersebut”.
”Apa cita-citamu?” tanya wartawan
Dengan cepat Muhammad menjawab, ”Aku memiliki banyak cita-cita. Aku ingin haji ke Makkah dan mencium Hajar Aswad”.
”Sungguh aku perhatikan bahwa keinginanmu untuk menunaikan ibadah haji adalah sangat besar. Adakah penyebab hal tersebut?” tanya wartawan lagi.
Ibu Muhammad untuk pertama kalinya ikut angkat bicara, dia berkata: ”Sesungguhnya gambar Ka’bah telah memenuhi kamarnya, sebagian manusia menyangka bahwa apa yang dia lewati pada saat sekarang hanyalah semacam khayalan, semacam angan yang akan berhenti pada suatu hari. Akan tetapi mereka tidak mengetahui bahwa dia tidak hanya sekedar serius, melainkan mengimaninya dengan sangat dalam sampai pada tingkatan yang tidak bisa dirasakan oleh orang lain”.
Tampaklah senyuman di wajah Muhammad ’Abdullah, dia melihat ibunya membelanya. Kemudian dia memberikan keterangan kepada ibunya tentang thawaf di sekitar Ka’bah, dan bagaimanakah haji sebagai sebuah lambang persamaan antar sesama manusia sebagaimana Tuhan telah menciptakan mereka tanpa memandang perbedaan warna kulit, bangsa, kaya, atau miskin.
Kemudian Muhammad meneruskan, ”Aku sudah menabung dengan mengumpulkan sisa dari uang sakuku agar aku bisa pergi ke Makkah Al-Mukarramah. Aku mendengar bahwa perjalanan ke sana membutuhkan biaya 4 ribu dollar, dan sekarang aku mempunyai 300 dollar.”
....Aku sudah menabungkan sisa dari uang sakuku agar aku bisa pergi ke Makkah Al-Mukarramah. Perjalanan ke sana membutuhkan biaya 4 ribu dollar, dan sekarang aku mempunyai 300 dollar....
Ibunya menimpalinya seraya berkata untuk berusaha menghilangkan kesan keteledorannya, ”Aku sama sekali tidak keberatan dan menghalanginya pergi ke Makkah, akan tetapi kami tidak memiliki cukup uang untuk mengirimnya dalam waktu dekat ini.”
”Apakah cita-citamu yang lain?” tanya wartawan kepada sang bocah.
“Aku bercita-cita agar Palestina kembali ke tangan kaum muslimin. Ini adalah bumi mereka yang dicuri oleh orang-orang Israel (Yahudi) dari mereka,” jawab Muhammad.
Ibunya melihat kepadanya dengan penuh keheranan. Maka dia pun memberikan isyarat bahwa sebelumnya telah terjadi perdebatan antara dia dengan ibunya sekitar tema ini.
Muhammad berkata, ”Ibu, engkau belum membaca sejarah, bacalah sejarah, sungguh benar-benar telah terjadi perampasan terhadap Palestina.”
....Cita-citaku adalah aku ingin belajar bahasa Arab, menghafal Al-Quran, dan belajar di negeri Islam....
”Apakah engkau mempunyai cita-cita lain?” tanya wartawan lagi.
Muhammad menjawab, “Cita-citaku adalah aku ingin belajar bahasa Arab, dan menghafal Al-Quran.”
“Apakah engkau berkeinginan belajar di negeri Islam?” tanya wartawan
“Tentu!” tukasnya.
”Apakah engkau memiliki kesulitan dalam hal makanan? Bagaimana engkau menghindari daging babi?”
Muhammad menjawab, ”Babi adalah hewan yang sangat kotor dan menjijikkan. Aku sangat heran, bagaimanakah mereka memakan dagingnya. Keluargaku mengetahui bahwa aku tidak memakan daging babi, oleh karena itu mereka tidak menghidangkannya untukku. Dan jika kami pergi ke restoran, maka aku bilang kepada mereka bahwa aku tidak memakan daging babi.”
”Apakah engkau shalat di sekolah?”
”Ya, aku telah membuat sebuah tempat rahasia di perpustakaan. Aku shalat di sana setiap hari,” jawab Muhammad.
Kemudian datanglah waktu shalat maghrib di tengah wawancara. Bocah itu langsung berkata kepada wartawan, “Apakah engkau mengizinkanku untuk mengumandangkan azan?”
Kemudian dia berdiri dan mengumandangkan azan. Dan tanpa terasa, air mata mengalir di kedua mata sang wartawan ketika melihat dan mendengarkan bocah itu menyuarakan azan. Subhanallah!! Sumber [riafariana/voa-islam.com]
nasi kebuli
NASI KEBULI
Bahan-bahan :
- 1 kg beras
- 1/2 kg daging kambing yang masih ada tulang mudanya
- 3 sdm kismis
- 3 sdm bawang goreng
- 2 sdm minyak samin
- 1 sdt garam
- 1 batang kayu manis
- 4 biji cengkih
- 1/2 biji pala
- 2 buah bunga peka
- 2 buah kapulaga
- 2 batang serai
- 5 lembar daun jeruk
- 2 lembar daun salam
- 1500 ml santan sedang kentalnya
- Minyak dan garam secukupnya.
- 3 siung bawang putih
- 5 siung bawang merah
- 1 sdm ketumbar
- 1 sdt jintan
- 1/2 sdt adas manis
- 4 cm kunyit
- 2 cm jahe
- Tumis bumbu yang dihaluskan beserta kayu manis,cengkih, pala, bunga peka, kapulaga, sereh, daun jeruk, daun salam dan garam hingga harum dan matang.
- Masukkan daging kambing, masak hingga daging berubah warna, masukkan beras.
- Tumis beserta bumbu hingga beraroma harum, masukkan kismis dan santan, kecilkan api, masak sampai menjadi karonan.
- Matikan api, angkat karonan, kukus selama 45 menit, angkat dan tambahkan minyak samin, aduk rata, hidangkan.
mahluk luar angkasa menurut Al-Quran
Makhluk Luar Angkasa Menurut Tinjauan Al-Quran
Segala puji bagi Allah shalawat serta salam semoga tercurah keatas junjungan kita Nabi Muhammad, keluarganya, shahabatnya dan mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. Amma ba’du:
Pembaca yang dirahmati Allah Ta’alaa:
fenomena yang terjadi baru-baru ini yaitu kemunculan jejak UFO berupa circle crop di Sleman Yogyakarta menggegerkan rakyat Indonesia terutama warga sekitar karena ini yang pertama terjadi di negara kita.
Sebagian orang langsung percaya bahwa itu memang jejak UFO dan memang makhluk luar angkasa benar-benar ada, sedangkan sebagian orang terburu-buru mengingkarinya dan mengatakan bahwa makhluk luar angkasa itu tidak ada.
Lalu bagaimana kita sebagai seorang muslim yang diwajibkan percaya kepada yang ghaib yang tidak bisa kita lihat menyikapi phenomena seperti ini?
Bagaimana phenomena makhluk luar angkasa jika ditinjau dari Al-Qur’an?
Harus diketahui bahwa Yang menciptakan manusia dari tidak ada dan membentuknya dan meniupkan padanya dari ruh-Nya, dan mengokohkan ciptaan alam semesta ini termasuk keajaiban yang ada didalamnya, adalah juga Maha Kuasa untuk menciptakan luar angkasa dan makhluknya, Al-Qur’an telah menunjukkan adanya makhluk-makhluk yang tidak diketahui oleh manusia dimasa kenabian, demikian juga Al-Qur’an menunjukkan peran dari penemuan ilmiyah, dan bahwa setiap berita akan ada waktu kemunculannya, Allah Azza wa Jalla berfirman:
(وَالْخَيْلَ وَالْبِغَالَ وَالْحَمِيرَ لِتَرْكَبُوهَا وَزِينَةً وَيَخْلُقُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ ) (النحل:8)
Artinya: (dan dia telah menciptakan kuda, bagal dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya.) [QS An-Nahl: 8].
Ayat diatas mengisyaratkan bahwa ada beberapa makhluk yang diciptakan oleh Allah Ta'aala dari jenis hewan yang kita tidak mengetahuinya, ini karena Allah Ta'aala menyambungkan makhluk tersebut dengan kuda, bagal dan keledai yang merupakan jenis hewan.
Dan disebutkan di dalam Al-Qur’an beberapa ayat lainnya yang sepertinya mengisyaratkan adanya binatang di langit dan bumi, diantaranya firman Allah Ta’alaa:
(وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَثَّ فِيهِمَا مِن دَابَّةٍ وَهُوَ عَلَى جَمْعِهِمْ إِذَا يَشَاء قَدِيرٌ) (الشورى:29)
Artinya: (di antara tanda-tanda-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata yang Dia sebarkan pada keduanya. dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya) [QS Asy-Syuura: 29].
Sebagian ulama mengatakan bahwa lafaz daabbah (makhluk melata)menunjukkan bahwa itu makhluk-makhluk selain malaikat karena Allah Azza wa Jalla membedakan antara makhluk yang melata dengan malaikat dalam menyebutkannya dalam firman-Nya:
(وَلِلّهِ يَسْجُدُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ مِن دَآبَّةٍ وَالْمَلآئِكَةُ وَهُمْ لاَ يَسْتَكْبِرُونَ) (النحل:49)
Artinya: (dan kepada Allah sajalah bersujud segala makhluk melata yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) Para ma]aikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri) [QS An-Nahl: 49).
Allah Ta’alaa menyebutkan dalam ayat diatas makhluk-makhluk melata di langit dan makhluk melata di bumi kemudian baru menyebutkan para malaikat.
Dengan ayat-ayat seperti ini sebagian ulama menyebutkan bahwa tidak ada salahnya ini menjadi isyarat atas wujudnya alam-alam lain, akan tetapi sepatutnya kita tidak memastikan hal ini, karena ayat-ayat seperti ini bisa mengandung kemungkinan lebih dari satu pentakwilan.(Fatwa dari Syeikh Abdullah Al-Faqih hadidzohullah Ta'alaa)
Adapun pendapat bahwa makhluk-makhluk ini yang menciptakan manusia dengan bentuk yang menyerupainya dengan perantara DNA dan bahwa dia merupakan kekuatan ajaib yang mengakibatkan wujudnya manusia, maka ini secara hakikatnya merupakan pendapat yang batil yang menafikan akidahnya.
Kesimpulan:
Meskipun Al-Qur’an telah mengisyaratkan dalam beberapa ayatnya tentang kemungkinan keberadaan makhluk di luar angkasa, namun kita tidak boleh memastikan bahwa phenomena yang terjadi di bumi merupakan jejak keberadaan mereka, karena tidak ada seorangpun yang pernah melihat secara langsung wujud mereka seperti yang sering dilukiskan dalam film-film, demikian juga kita tidak boleh menafikan secara langsung keberadaan mereka karena Al-Qur’an telah memberi isyarat yang memungkinkan keberadaan mereka.
Tapi kita tidak boleh terlalu menyibukkan diri mendalami tentang masalah ini karena bukan termasuk perkara ibadah yang diwajibkan oleh Allah kepada kita untuk mengharap pahala dan ridlo-Nya di dunia dan akhirat.
Wallau A’lam bishowab.
sumber dari (ar/voa-islam.com)
Ayam Goreng Terasi
Ayam Goreng Terasi
Bahan :
- 8 buah paha bawah ayam
- 1 lembar daun pandan
- 1 sdm kecap ikan
- 200 ml air
- 250 ml minyak goreng untuk menggoreng
Bumbu yang dihaluskan
- 3 siung bawang putih
- 1/2 sdt terasi yang baru digoreng
- 2 cm kunyit
- 2 cm jahe
- 1 sdm ketumbar bulat disangan
- 2 mata asam jawa
- 1 sdt garam
- 2 sdt gula merah disisir
Cara Membuat:
- Rebus air hingga mendidih, masukkan bumbu yang dihaluskan, daun pandan dan kecap ikan.
- Kemudian masukkan ayam, kecilkan api, ungkep hingga kuah tinggal sedikit sambil sekali-sekali dibalik-balik.
- Dinginkan ayam.
- Panaskan minyak goreng lalu goreng ayam hingga agak kering.
tanda-tanda anak pernah mengalami kekerasan
Kisah nyata ini dialami oleh seorang ibu yang tinggal di ibu kota. Ia mengeluhkan sikap anaknya yang tiba-tiba sulit disuruh mandi. "Baru diminta buka baju saja susah sekali." Tidak hanya itu, si kecil juga terlihat ketakutan saat bersentuhan dengan air. "Dia selalu menjerit-jerit begitu melihat air dalam bak mandi." Si ibu pantas heran, sebab sebelumnya si kecil tidak bersikap seperti itu.
Akhirnya, setelah mencari tahu penyebabnya, ia kaget bukan alang kepalang. "Anak saya sering dimandikan secara paksa oleh pengasuhnya. Bahkan si pengasuh kerap mengguyurkan air sehingga si kecil kesulitan bernapas," tuturnya dengan mimik sedih. Akibatnya, si kecil tidak hanya sulit disuruh mandi tapi juga takut terhadap air. Sayangnya lagi, informasi itu baru diketahui si ibu setelah si pengasuh tak lagi bekerja di situ. "Anak saya baru berterus terang saat pengasuhnya sudah tidak ada di rumah. Sewaktu si pengasuh masih ada di rumah, dia tak pernah berani cerita apa-apa."
Hal itu ada benarnya. Pendapat psikolog dari LPT UI (Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia), Muhammad Rizal, Psi., setidaknya bisa dijadikan gambaran. Kekerasan pada anak, katanya, dapat dibedakan menjadi dua macam, yakni kekerasan fisik (KF) dan kekerasan non-fisik (KNF). Kekerasan Fisik adalah tindakan yang bertujuan melukai, menyiksa menganiaya, atau memperlakukan anak secara kasar. Tindakan tersebut bisa dilakukan menggunakan anggota tubuh seperti tangan dan kaki, atau lewat bantuan alat-alat lain.
DISERTAI ANCAMAN
Beberapa tindakan yang dikategorikan sebagai KF antara lain memukul, menjewer, dan menendang. "Bahkan perilaku seperti menceboki anak dengan kaki pun bisa dikategorikan dengan tindak kekerasan." Hanya saja bukan perkara mudah mendeteksi KF yang dialami anak. Terlebih jika anak hanya mengalami kekerasan ringan seperti dijewer atau dicubit atau sebaliknya anak benar-benar mengalami KF berat seperti dipukul atau ditendang. Meski bekas memarnya tidak cepat hilang, orang tua tetap akan menemui kesulitan untuk memastikannya.
Soalnya, KF biasanya disertai oleh KNF. Setelah melakukan kekerasan, pelaku umumnya akan langsung mengancam si anak agar tidak membocorkan kejadian tersebut kepada siapa pun. Contohnya pengasuh yang mengancam tidak akan lagi mengajak si anak bermain jika memberitahukan kejadian tersebut kepada orang lain. Apalagi jika saat itu tidak ada orang tua/orang lain di tempat kejadian. Dengan begitu, anak akan menutup mulutnya rapat-rapat saat bertemu orang tuanya. Jadi, saat orang tua bertanya, "Kenapa tangan kamu merah dan bengkak?" anak ketakutan untuk menjawab apa adanya.
Jika KF saja sulit terdeksi, apalagi KNF. Masalahnya, KNF merupakan bentuk kekerasan yang melibatkan kata-kata, baik berupa ancaman atau kata-kata kasar. "Dampaknya secara langsung kadang amat sulit terdeteksi." Padahal tindakan tersebut sering mengganggu atau setidaknya menekan emosi korban. Secara kejiwaan, korban jadi tidak berani mengungkapkan pendapat, jadi kelewat penurut dan selalu bergantung. Akibat lebih lanjut, karena selalu dalam keadaan tertekan dan ketakutan, korban merupakan sasaran empuk bagi si pelaku untuk melanjutkan tindakannya.
Sedangkan pelakunya, menurut Ical, bisa siapa saja. Meski umumnya pelaku tindak kekerasan adalah orang-orang dekat atau setidaknya kenal dengan si anak. Data dari Komnas Perlindungan Anak selama Desember 1999 sampai Januari 2000 menyebutkan, dari 35 kasus yang dihimpun ternyata pelaku kekerasan ini dilakukan oleh ayah kandung (5 orang), ayah tiri (1 orang), ibu kandung (12 orang), ibu tiri (1 orang), paman (1 orang), tetangga (1 orang), orang lain yang dikenal (2 orang), dan orang lain yang tak dikenal (12 orang). Itu baru kasus-kasus yang muncul permukaan karena yang tidak diungkap justru jauh lebih banyak jumlahnya.
ANEKA DETEKSI
Menurut Ical, salah satu cara termudah untuk mendeteksi ada tidaknya kekerasan pada anak adalah dengan memonitor perilaku dan sikapnya. Cara ini sangat efektif mengingat kemampuan berkomunikasi anak batita sangat terbatas. Batita awal, contohnya, manalah bisa diharapkan mampu menuturkan kejadian buruk yang dialaminya dengan lancar, jelas, dan lengkap. Jadi, nyaris merupakan kesia-siaan bila orang tua ngotot mengorek pengalaman kekerasan yang dialami si anak batita. Terlebih bila benar anak menerima ancaman dari si pelaku.
* Gejala Regresi
Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan mengamati apakah anak memperlihatkan gejala regresi dalam kehidupannya sehari-hari. Regresi merupakan suatu bentuk kemunduran perilaku ke tahap sebelumnya. Biasanya, kondisi ini muncul karena anak mengalami pengalaman kurang menyenangkan bahkan traumatis. Ical lantas mencontohkan kasus anak yang tadinya gampang disuruh tidur kini malah selalu menangis menjerit-jerit sambil meronta-ronta saat lampu kamarnya diredupkan/dimatikan. Usut punya usut ternyata pengasuhnya hobi mengurung si anak di kamar dalam keadaan gelap setiap kali ia dianggap nakal atau rewel.
* Takut Berlebihan
Hal lain yang bisa diamati adalah munculnya ketakutan yang berlebihan pada benda-benda tertentu atau orang asing yang baru dikenalnya. Kekerasan yang pernah dialaminya membuat si anak takut menghadapi benda atau orang tersebut. Anak-anak yang mendapat perlakuan kasar dari anak tetangga yang tinggal di depan rumah, misalnya, besar kemungkinan akan takut keluar rumah atau melewati rumah itu.
* Bukti Fisik
Selain itu, orang tua juga bisa mendeteksi kekerasan lewat bukti fisik yang bisa terlihat seperti luka memar, luka gores, bengkak atau lebam yang dialami anak. Orang tua mesti jeli jika mendapati ciri-ciri tersebut pada si kecil. Sebab ada kemungkinan si kecil mengalami tindak kekerasan dari orang lain. Selanjutnya orang tua disarankan melakukan kroscek secara berulang untuk menguatkan dugaan tadi.
GALI INFORMASI
Memang tidak semua ciri yang disebutkan di atas pasti merupakan akibat kekerasan yang dialami anak oleh orang terdekatnya. Untuk membuktikannya, orang tua perlu menggali informasi lebih dalam dari si anak dan pengasuh. Tanyakan kepada si anak terlebih dahulu, "Kok tangan kamu bengkak, Dek?"
Agar anak bisa menjawab dengan tenang, orang tua harus bisa mengupayakan tempat yang nyaman seperti di kamar tidur atau di luar rumah. Dalam kondisi demikian, anak biasanya akan menjawab pertanyaan itu dengan santai dan jujur. Meski mungkin anak akan memberikan jawaban dengan sedikit kata dan banyak isyarat tubuh tentang luka di tubuhnya.
Jika si anak sudah bisa menjawab pertanyaan, atau bahkan tidak bisa menjawab sama sekali, orang tua bisa mengorek informasi dari orang sekitar yang saat itu berada dekat dengan anak. Jika cara ini juga tidak berhasil, orang tua bisa menanyakan langsung pada si pengasuh. Bila perlu, berikan jaminan Anda tidak akan memecatnya jika ia mau berterus terang. Dengan cara itu, diharapkan dia bisa menceritakan kejadian dengan sebenar-benarnya. Pengasuh yang baik pastinya akan berterus terang menceritakan peristiwa apa pun yang menimpa anak asuhnya. Ia tidak akan menutup-nutupi, bahkan langsung melaporkan saat majikannya datang. Misal, "Bu tadi Adek jatuh dari mainan kuda-kudaan. Tangannya lecet dan saya sudah menetesinya dengan obat luka."
Orang tua dituntut mampu bersikap bijak bila mendapati pengasuh anaknya melakukan tindak kekerasan. Jika tindakan itu hanya bersifat ringan dan dilakukan sekali atau dua kali, tak ada salahnya orang tua memberi maaf. Tentu saja dengan memberi peringatan sekaligus menuntut si pengasuh untuk berjanji tidak mengulangi perbuatannya. "Ingat, yang namanya manusia kan tidak bisa lepas dari sifat khilaf. Mungkin saat itu ia sedang kesal karena banyak masalah lalu secara tidak sadar melampiaskan kekesalannya pada si kecil."
Apalagi, ungkap Ical, usia batita merupakan masa berkembangnya sikap agresif. Saat ini anak bisa saja sedang senang melempar benda, memukul, menggigit atau melakukan bentuk-bentuk agresivitas lainnya. Perilaku semacam itu sangat mungkin membuat kesal si pengasuh. Artinya, orang tua juga harus menyadari sepenuhnya bahwa mengurus anak memang menuntut kesabaran ekstra.
AGRESIF: SALAH SATU DAMPAK NEGATIF
Yang tidak kalah penting, tambah Ical, orang tua perlu mewaspadai dampak negatif yang ditimbulkan oleh tindak kekerasan yang dialami anak. Dampak sesaat mungkin hanya berupa luka di tubuh. Namun, bagaimana bila anak sampai mengalami trauma terhadap benda atau orang tertentu. Bila luka di kulit bisa diobati dengan cepat, tak demikian halnya luka batin/pengalaman traumatis karena membutuhkan pengobatan yang lama.
Bahkan jika tidak diatasi dengan baik, trauma tersebut akan terus berlanjut sampai anak beranjak dewasa. Misalnya, takut berada di ruang gelap bisa dimulai dari pengalaman tidak enak di masa kecil. Yang memprihatinkan justru dampak jangka panjangnya, yakni anak belajar tentang kekerasan. Alam bawah sadarnya akan memotret semua perilaku agresif pengasuh atau orang terdekatnya. Kemudian secara tidak langsung akan diterapkannya saat ia dewasa kelak.
Lebih dari itu, secara otomatis anak juga akan melakukan pertahanan diri jika mengalami kekerasan. Jika pertahanan dirinya negatif, ia akan melakukan tindakan-tindakan yang menyimpang. Salah satunya dengan merusak diri sendiri seperti terlibat dalam obat-obat terlarang dan minuman keras atau mengganggu lingkungan. Dengan kata lain, tindak kekerasan pada anak akan berakibat negatif secara fisik maupun psikologis hingga ia dewasa kelak.
Untuk mengatasi dampak jangka pendek, orang tua perlu melakukan penanggulangan dengan cara menjauhkan anak dari sumber trauma. Setelah itu sedikit demi sedikit anak dijelaskan bahwa hal-hal yang ditakutkannya tidaklah terbukti. Jika anak takut air, orang tua bisa mengajak anak bermain air terlebih dahulu. Dengan begitu, anak tidak akan takut lagi jika disuruh mandi.
Disamping itu, orang tua juga perlu mengatasi sikap agresif anak agar tidak menjadi-jadi. Anak harus tahu, mana hal yang benar yang bisa dilakukannya dan mana pula hal yang salah yang tidak patut dilakukannya. Dengan cara ini, diharapkan anak mampu "menyaring" dan tidak meniru kekerasan yang dialami atau dilihatnya.
CIRI-CIRI SI KECIL MENJADI KORBAN KEKERASAN
Berikut beberapa tanda yang menurut Ical bisa dijadikan acuan bagi orang tua saat berusaha mendeteksi kekerasan pada anak:
* Agresif
Sikap agresif biasanya ditujukan anak kepada pelaku tindak kekerasan. Sikap agresif ini umumnya akan ditunjukkan saat anak merasa ada orang yang bisa melindungi dirinya. Saat ayah/ibu ada di rumah, anak langsung memukul atau melakukan tindakan agresif terhadap si pengasuh. Namun orang tua perlu hati-hati karena tidak semua sikap ini menunjukkan bahwa anak telah mengalami tindak kekerasan. Anak yang sedang dalam masa agresif, bisa saja ingin menunjukkan kepada orang tuanya mengenai sikap agresifnya.
* Cengeng
Cengeng atau rewel umumnya dilakukan saat anak kehilangan figur yang bisa melindunginya. Dalam situasi seperti itu anak merasa tidak aman. Contohnya, begitu ditinggal bekerja ibu-bapaknya, anak korban kekerasan akan selalu menangis meraung-raung. Lagi-lagi ciri ini juga tidaklah mutlak. Boleh jadi anak cengeng karena memang amat lengket dengan orang tuanya. Ia tidak ingin kehilangan atau jauh dari figur terdekatnya. Orang tua perlu mencek faktor-faktor lain untuk membuktikan ada tidaknya faktor kekerasan pada anak.
* Bersedih dan Depresi
Tindak kekerasan bisa membuat anak terpuruk pada kondisi depresi. Hal ini bisa dilihat dari sikap anak yang berubah drastis, semisal anak jadi memiliki gangguan tidur dan makan, tak jarang disertai penurunan berat badan secara mencolok dan menarik diri dari lingkungan yang menjadi sumber trauma. Sikapnya berubah menjadi pendiam serta anak terlihat kurang ekspresif.
MANFAATKAN TELEPON GENGGAM DAN KOMPUTER
Kemajuan teknologi jelas memberi kemudahan bagi orang tua untuk memantau aktivitas anak di rumah. Salah satunya pemantauan aktivitas lewat telepon genggam. Menurut Usun Pringgodigdo dari Nokia Sales Centre Jakarta, lewat HP dan observation camera orang tua bisa memantau anaknya di rumah. Perangkat ini merupakan pengembangan teknologi telepon multimedia yang marak akhir-akhir ini.
Dengan memasang alat tambahan berupa kamera di rumah, orang tua bisa menerima koneksi gambar kamera lewat telepon genggamnya dalam bentuk MMS (Multimedia Messaging Services). Untuk mendukung fasilitas ini dibutuhkan handphone multimedia yang bisa mengirim dan menerima MMS, sementara frekuensi pengiriman gambar bisa diatur sesuai keinginan. Dengan begitu saat di kantor, orang tua bisa memantau aktivitas anaknya sewaktu-waktu di rumah lewat ponsel miliknya. Perlu diketahui, harga satu pengiriman MMS menggunakan observation camera ini sama dengan pengiriman MMS biasa.
Adapun jumlah kamera yang dipasang bisa diatur sesuai pesanan. Hanya saja tiap observation camera yang bisa dipasang secara tersembunyi asal masih dalam jangkauan operator mesti dilengkapi dengan SIM card agar bisa beroperasi. Sebagai informasi, observation camera ini harganya sekitar Rp 4 jutaan dengan garansi setahun.
Selain MMS, telepon genggam juga bisa melihat pesan berbentuk video. Fasilitas yang diperlukan hanyalah WEB-cam dan koneksi ke internet. Untuk menggunakan fasilitas ini, pengguna harus memiliki telepon genggam yang memiliki fasilitas video streaming, lalu GPRS agar bisa koneksi ke internet, dan tentu saja WEB-cam. Biaya untuk fasilitas ini pastilah lebih mahal karena selain harus membeli fasilitas di atas, pengguna juga harus membayar biaya koneksi internet yang tidak murah.
Selain biaya, perlu juga diperhatikan kesiapan orang tua dan pengasuhnya sendiri. Pasalnya, pemantauan lewat kamera ini juga mungkin mengganggu privasi orang-orang di rumah. Semisal si pengasuh yang merasa tak dipercaya.
Saeful Imam. Foto: Iman/nakita
yang diatas saya download dari http://gratis45.com/anak/ANAKALAMIKEKERASAN.doc,jika anda ingin download gratis file ms.word silahkan klik disini gratis
Akhirnya, setelah mencari tahu penyebabnya, ia kaget bukan alang kepalang. "Anak saya sering dimandikan secara paksa oleh pengasuhnya. Bahkan si pengasuh kerap mengguyurkan air sehingga si kecil kesulitan bernapas," tuturnya dengan mimik sedih. Akibatnya, si kecil tidak hanya sulit disuruh mandi tapi juga takut terhadap air. Sayangnya lagi, informasi itu baru diketahui si ibu setelah si pengasuh tak lagi bekerja di situ. "Anak saya baru berterus terang saat pengasuhnya sudah tidak ada di rumah. Sewaktu si pengasuh masih ada di rumah, dia tak pernah berani cerita apa-apa."
Hal itu ada benarnya. Pendapat psikolog dari LPT UI (Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia), Muhammad Rizal, Psi., setidaknya bisa dijadikan gambaran. Kekerasan pada anak, katanya, dapat dibedakan menjadi dua macam, yakni kekerasan fisik (KF) dan kekerasan non-fisik (KNF). Kekerasan Fisik adalah tindakan yang bertujuan melukai, menyiksa menganiaya, atau memperlakukan anak secara kasar. Tindakan tersebut bisa dilakukan menggunakan anggota tubuh seperti tangan dan kaki, atau lewat bantuan alat-alat lain.
DISERTAI ANCAMAN
Beberapa tindakan yang dikategorikan sebagai KF antara lain memukul, menjewer, dan menendang. "Bahkan perilaku seperti menceboki anak dengan kaki pun bisa dikategorikan dengan tindak kekerasan." Hanya saja bukan perkara mudah mendeteksi KF yang dialami anak. Terlebih jika anak hanya mengalami kekerasan ringan seperti dijewer atau dicubit atau sebaliknya anak benar-benar mengalami KF berat seperti dipukul atau ditendang. Meski bekas memarnya tidak cepat hilang, orang tua tetap akan menemui kesulitan untuk memastikannya.
Soalnya, KF biasanya disertai oleh KNF. Setelah melakukan kekerasan, pelaku umumnya akan langsung mengancam si anak agar tidak membocorkan kejadian tersebut kepada siapa pun. Contohnya pengasuh yang mengancam tidak akan lagi mengajak si anak bermain jika memberitahukan kejadian tersebut kepada orang lain. Apalagi jika saat itu tidak ada orang tua/orang lain di tempat kejadian. Dengan begitu, anak akan menutup mulutnya rapat-rapat saat bertemu orang tuanya. Jadi, saat orang tua bertanya, "Kenapa tangan kamu merah dan bengkak?" anak ketakutan untuk menjawab apa adanya.
Jika KF saja sulit terdeksi, apalagi KNF. Masalahnya, KNF merupakan bentuk kekerasan yang melibatkan kata-kata, baik berupa ancaman atau kata-kata kasar. "Dampaknya secara langsung kadang amat sulit terdeteksi." Padahal tindakan tersebut sering mengganggu atau setidaknya menekan emosi korban. Secara kejiwaan, korban jadi tidak berani mengungkapkan pendapat, jadi kelewat penurut dan selalu bergantung. Akibat lebih lanjut, karena selalu dalam keadaan tertekan dan ketakutan, korban merupakan sasaran empuk bagi si pelaku untuk melanjutkan tindakannya.
Sedangkan pelakunya, menurut Ical, bisa siapa saja. Meski umumnya pelaku tindak kekerasan adalah orang-orang dekat atau setidaknya kenal dengan si anak. Data dari Komnas Perlindungan Anak selama Desember 1999 sampai Januari 2000 menyebutkan, dari 35 kasus yang dihimpun ternyata pelaku kekerasan ini dilakukan oleh ayah kandung (5 orang), ayah tiri (1 orang), ibu kandung (12 orang), ibu tiri (1 orang), paman (1 orang), tetangga (1 orang), orang lain yang dikenal (2 orang), dan orang lain yang tak dikenal (12 orang). Itu baru kasus-kasus yang muncul permukaan karena yang tidak diungkap justru jauh lebih banyak jumlahnya.
ANEKA DETEKSI
Menurut Ical, salah satu cara termudah untuk mendeteksi ada tidaknya kekerasan pada anak adalah dengan memonitor perilaku dan sikapnya. Cara ini sangat efektif mengingat kemampuan berkomunikasi anak batita sangat terbatas. Batita awal, contohnya, manalah bisa diharapkan mampu menuturkan kejadian buruk yang dialaminya dengan lancar, jelas, dan lengkap. Jadi, nyaris merupakan kesia-siaan bila orang tua ngotot mengorek pengalaman kekerasan yang dialami si anak batita. Terlebih bila benar anak menerima ancaman dari si pelaku.
* Gejala Regresi
Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan mengamati apakah anak memperlihatkan gejala regresi dalam kehidupannya sehari-hari. Regresi merupakan suatu bentuk kemunduran perilaku ke tahap sebelumnya. Biasanya, kondisi ini muncul karena anak mengalami pengalaman kurang menyenangkan bahkan traumatis. Ical lantas mencontohkan kasus anak yang tadinya gampang disuruh tidur kini malah selalu menangis menjerit-jerit sambil meronta-ronta saat lampu kamarnya diredupkan/dimatikan. Usut punya usut ternyata pengasuhnya hobi mengurung si anak di kamar dalam keadaan gelap setiap kali ia dianggap nakal atau rewel.
* Takut Berlebihan
Hal lain yang bisa diamati adalah munculnya ketakutan yang berlebihan pada benda-benda tertentu atau orang asing yang baru dikenalnya. Kekerasan yang pernah dialaminya membuat si anak takut menghadapi benda atau orang tersebut. Anak-anak yang mendapat perlakuan kasar dari anak tetangga yang tinggal di depan rumah, misalnya, besar kemungkinan akan takut keluar rumah atau melewati rumah itu.
* Bukti Fisik
Selain itu, orang tua juga bisa mendeteksi kekerasan lewat bukti fisik yang bisa terlihat seperti luka memar, luka gores, bengkak atau lebam yang dialami anak. Orang tua mesti jeli jika mendapati ciri-ciri tersebut pada si kecil. Sebab ada kemungkinan si kecil mengalami tindak kekerasan dari orang lain. Selanjutnya orang tua disarankan melakukan kroscek secara berulang untuk menguatkan dugaan tadi.
GALI INFORMASI
Memang tidak semua ciri yang disebutkan di atas pasti merupakan akibat kekerasan yang dialami anak oleh orang terdekatnya. Untuk membuktikannya, orang tua perlu menggali informasi lebih dalam dari si anak dan pengasuh. Tanyakan kepada si anak terlebih dahulu, "Kok tangan kamu bengkak, Dek?"
Agar anak bisa menjawab dengan tenang, orang tua harus bisa mengupayakan tempat yang nyaman seperti di kamar tidur atau di luar rumah. Dalam kondisi demikian, anak biasanya akan menjawab pertanyaan itu dengan santai dan jujur. Meski mungkin anak akan memberikan jawaban dengan sedikit kata dan banyak isyarat tubuh tentang luka di tubuhnya.
Jika si anak sudah bisa menjawab pertanyaan, atau bahkan tidak bisa menjawab sama sekali, orang tua bisa mengorek informasi dari orang sekitar yang saat itu berada dekat dengan anak. Jika cara ini juga tidak berhasil, orang tua bisa menanyakan langsung pada si pengasuh. Bila perlu, berikan jaminan Anda tidak akan memecatnya jika ia mau berterus terang. Dengan cara itu, diharapkan dia bisa menceritakan kejadian dengan sebenar-benarnya. Pengasuh yang baik pastinya akan berterus terang menceritakan peristiwa apa pun yang menimpa anak asuhnya. Ia tidak akan menutup-nutupi, bahkan langsung melaporkan saat majikannya datang. Misal, "Bu tadi Adek jatuh dari mainan kuda-kudaan. Tangannya lecet dan saya sudah menetesinya dengan obat luka."
Orang tua dituntut mampu bersikap bijak bila mendapati pengasuh anaknya melakukan tindak kekerasan. Jika tindakan itu hanya bersifat ringan dan dilakukan sekali atau dua kali, tak ada salahnya orang tua memberi maaf. Tentu saja dengan memberi peringatan sekaligus menuntut si pengasuh untuk berjanji tidak mengulangi perbuatannya. "Ingat, yang namanya manusia kan tidak bisa lepas dari sifat khilaf. Mungkin saat itu ia sedang kesal karena banyak masalah lalu secara tidak sadar melampiaskan kekesalannya pada si kecil."
Apalagi, ungkap Ical, usia batita merupakan masa berkembangnya sikap agresif. Saat ini anak bisa saja sedang senang melempar benda, memukul, menggigit atau melakukan bentuk-bentuk agresivitas lainnya. Perilaku semacam itu sangat mungkin membuat kesal si pengasuh. Artinya, orang tua juga harus menyadari sepenuhnya bahwa mengurus anak memang menuntut kesabaran ekstra.
AGRESIF: SALAH SATU DAMPAK NEGATIF
Yang tidak kalah penting, tambah Ical, orang tua perlu mewaspadai dampak negatif yang ditimbulkan oleh tindak kekerasan yang dialami anak. Dampak sesaat mungkin hanya berupa luka di tubuh. Namun, bagaimana bila anak sampai mengalami trauma terhadap benda atau orang tertentu. Bila luka di kulit bisa diobati dengan cepat, tak demikian halnya luka batin/pengalaman traumatis karena membutuhkan pengobatan yang lama.
Bahkan jika tidak diatasi dengan baik, trauma tersebut akan terus berlanjut sampai anak beranjak dewasa. Misalnya, takut berada di ruang gelap bisa dimulai dari pengalaman tidak enak di masa kecil. Yang memprihatinkan justru dampak jangka panjangnya, yakni anak belajar tentang kekerasan. Alam bawah sadarnya akan memotret semua perilaku agresif pengasuh atau orang terdekatnya. Kemudian secara tidak langsung akan diterapkannya saat ia dewasa kelak.
Lebih dari itu, secara otomatis anak juga akan melakukan pertahanan diri jika mengalami kekerasan. Jika pertahanan dirinya negatif, ia akan melakukan tindakan-tindakan yang menyimpang. Salah satunya dengan merusak diri sendiri seperti terlibat dalam obat-obat terlarang dan minuman keras atau mengganggu lingkungan. Dengan kata lain, tindak kekerasan pada anak akan berakibat negatif secara fisik maupun psikologis hingga ia dewasa kelak.
Untuk mengatasi dampak jangka pendek, orang tua perlu melakukan penanggulangan dengan cara menjauhkan anak dari sumber trauma. Setelah itu sedikit demi sedikit anak dijelaskan bahwa hal-hal yang ditakutkannya tidaklah terbukti. Jika anak takut air, orang tua bisa mengajak anak bermain air terlebih dahulu. Dengan begitu, anak tidak akan takut lagi jika disuruh mandi.
Disamping itu, orang tua juga perlu mengatasi sikap agresif anak agar tidak menjadi-jadi. Anak harus tahu, mana hal yang benar yang bisa dilakukannya dan mana pula hal yang salah yang tidak patut dilakukannya. Dengan cara ini, diharapkan anak mampu "menyaring" dan tidak meniru kekerasan yang dialami atau dilihatnya.
CIRI-CIRI SI KECIL MENJADI KORBAN KEKERASAN
Berikut beberapa tanda yang menurut Ical bisa dijadikan acuan bagi orang tua saat berusaha mendeteksi kekerasan pada anak:
* Agresif
Sikap agresif biasanya ditujukan anak kepada pelaku tindak kekerasan. Sikap agresif ini umumnya akan ditunjukkan saat anak merasa ada orang yang bisa melindungi dirinya. Saat ayah/ibu ada di rumah, anak langsung memukul atau melakukan tindakan agresif terhadap si pengasuh. Namun orang tua perlu hati-hati karena tidak semua sikap ini menunjukkan bahwa anak telah mengalami tindak kekerasan. Anak yang sedang dalam masa agresif, bisa saja ingin menunjukkan kepada orang tuanya mengenai sikap agresifnya.
* Cengeng
Cengeng atau rewel umumnya dilakukan saat anak kehilangan figur yang bisa melindunginya. Dalam situasi seperti itu anak merasa tidak aman. Contohnya, begitu ditinggal bekerja ibu-bapaknya, anak korban kekerasan akan selalu menangis meraung-raung. Lagi-lagi ciri ini juga tidaklah mutlak. Boleh jadi anak cengeng karena memang amat lengket dengan orang tuanya. Ia tidak ingin kehilangan atau jauh dari figur terdekatnya. Orang tua perlu mencek faktor-faktor lain untuk membuktikan ada tidaknya faktor kekerasan pada anak.
* Bersedih dan Depresi
Tindak kekerasan bisa membuat anak terpuruk pada kondisi depresi. Hal ini bisa dilihat dari sikap anak yang berubah drastis, semisal anak jadi memiliki gangguan tidur dan makan, tak jarang disertai penurunan berat badan secara mencolok dan menarik diri dari lingkungan yang menjadi sumber trauma. Sikapnya berubah menjadi pendiam serta anak terlihat kurang ekspresif.
MANFAATKAN TELEPON GENGGAM DAN KOMPUTER
Kemajuan teknologi jelas memberi kemudahan bagi orang tua untuk memantau aktivitas anak di rumah. Salah satunya pemantauan aktivitas lewat telepon genggam. Menurut Usun Pringgodigdo dari Nokia Sales Centre Jakarta, lewat HP dan observation camera orang tua bisa memantau anaknya di rumah. Perangkat ini merupakan pengembangan teknologi telepon multimedia yang marak akhir-akhir ini.
Dengan memasang alat tambahan berupa kamera di rumah, orang tua bisa menerima koneksi gambar kamera lewat telepon genggamnya dalam bentuk MMS (Multimedia Messaging Services). Untuk mendukung fasilitas ini dibutuhkan handphone multimedia yang bisa mengirim dan menerima MMS, sementara frekuensi pengiriman gambar bisa diatur sesuai keinginan. Dengan begitu saat di kantor, orang tua bisa memantau aktivitas anaknya sewaktu-waktu di rumah lewat ponsel miliknya. Perlu diketahui, harga satu pengiriman MMS menggunakan observation camera ini sama dengan pengiriman MMS biasa.
Adapun jumlah kamera yang dipasang bisa diatur sesuai pesanan. Hanya saja tiap observation camera yang bisa dipasang secara tersembunyi asal masih dalam jangkauan operator mesti dilengkapi dengan SIM card agar bisa beroperasi. Sebagai informasi, observation camera ini harganya sekitar Rp 4 jutaan dengan garansi setahun.
Selain MMS, telepon genggam juga bisa melihat pesan berbentuk video. Fasilitas yang diperlukan hanyalah WEB-cam dan koneksi ke internet. Untuk menggunakan fasilitas ini, pengguna harus memiliki telepon genggam yang memiliki fasilitas video streaming, lalu GPRS agar bisa koneksi ke internet, dan tentu saja WEB-cam. Biaya untuk fasilitas ini pastilah lebih mahal karena selain harus membeli fasilitas di atas, pengguna juga harus membayar biaya koneksi internet yang tidak murah.
Selain biaya, perlu juga diperhatikan kesiapan orang tua dan pengasuhnya sendiri. Pasalnya, pemantauan lewat kamera ini juga mungkin mengganggu privasi orang-orang di rumah. Semisal si pengasuh yang merasa tak dipercaya.
Saeful Imam. Foto: Iman/nakita
yang diatas saya download dari http://gratis45.com/anak/ANAKALAMIKEKERASAN.doc,jika anda ingin download gratis file ms.word silahkan klik disini gratis
Langganan:
Postingan (Atom)



